Rabu, 25 November 2020

Pengertian Uji Validitas, Reabilitas, dan Daya Beda Beserta Contohnya

1. Pengertian Uji Validitas, Reabilitas, dan Daya Beda

a. Validitas : Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
b. Reabilitas : Reliabilitas berasal dari kata reliability. Pengertian dari reliability (rliabilitas) adalah keajegan pengukuran. Sugiharto dan Situnjak (2006) menyatakan bahwa reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian untuk memperoleh informasi yang digunakan dapat dipercaya sebagai alat pengumpulan data dan mampu mengungkap informasi yang sebenarnya dilapangan.
c. Daya Beda : Untuk mengetahui intensitas sebuah soal dalam hal kesukaran dibutuhkan sebuah daya pembeda, yaitu kemampuan antara butir soal dapat membedakan antara peserta didik yang menguasai materi yang diujikan dan peserta didik yang belum menguasai materi yang diujikan. Menurut Zainul, daya beda butri soal ialah indeks yang menunjukkan tingkat kemampuan butir soal membedakan kelompok yang berprestasi tinggi dari kelompok yang berprestasi rendah diantara para peserta tes. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi. Yang berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Pada indeks ini kemungkinan adanya tanda negatif manakala suatu tes terbalik menunjukkan kualitas tes yaitu anak pandai disebut tidak pandai dan sebaliknya.

2. Contoh Uji Validitas, Reabilitas, Daya Beda, dan Taraf Kesulitan Soal
a. Contoh Penghitungan Uji Validitas
: Data yang diperlukan dalam rumus adalah:
[Rumus]
∑X = … ∑Y = … ∑XY = … ∑X2= … ∑Y2 = … n = …
X = Skor yang diperoleh subyek dari seluruh item
Y = Skor total yang diperoleh dari seluruh item
ΣX = Jumlah skor dalam distribusi X
ΣY = Jumlah skor dalam distribusi Y
ΣX2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi X
ΣY2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi Y
N = Banyaknya responden
.
Langkah I.
: Koding semua data hasil kuesioner. Langkah II.
: Cari nilai ∑X
Langkah III
: Cari nilai ∑Y
Langkah IV.
: Cari nilai (∑X)2 yaitu dengan mempangkatkan dua dari nilai ∑X
Langkah V.
: Cari nilai ∑XY yaitu dengan mengalikan antara skor dengan jumlah skor
Langkah VI.
: Cari nilai (∑X.Y)
Langkah VII
: Cari nilai ∑X2
Langkah VIII
: Cari nilai ∑Y2 yaitu dengan menambahkan semua nilai ∑X.Y. selesai… sekarang coba masukan ke dalam rumus.
Contoh : Pertanyaan 1
selanjutnya, nilai r hitung untuk pertanyaan 1 diatas adalah 0,735 dibandingkan dengan nilai r tabel atau nilai r product moment yaitu (n-2) = 13 untuk taraf kesalahan 5% yaitu sebesar 0,553. karena nilai r hitung > nilai r product moment yaitu 0,735 > 0,553 maka pertanyaan tersebut VALID.

b. Contoh Penghitungan Reabilitas
: Bentuk Urayan
Jika skor butir instrumen atau soal tes kontinum (misalnya skala sikap atau soal bentuk uraian dengan skor butir 1-5 atau skor soal 0-10) dan diberi simbol Xi dan skor total instrumen atau tes diberi simbol Xt, maka rumus yang digunakan untuk menghitung koefesien korelasi antara skor butir instrumen atau soal dengan skor total instrumen atau skor total tes adalah sebagai berikut: Keterangan:
rit = koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total.
xi = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xi
xt = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xt
Data hasil uji coba adalah sebagai berikut : 
.
Nomor butir ||| Varian Butir
1.                       (1,24)
2.                       (1,29)
3.                       (0,56)
4.                       (1,16)
5.                       (1,44)
6.                       (1,69)
7.                       (1,24)
Jumlah :            8,62
.
Jadi koefesien reliabilitas tes (dengan 7 butir) pada contoh diatas adalah 0,97.

c. Contoh Daya Beda 
 
: Keterangan :
D = daya beda
JA = jumlah testee kelompok atas
JB = Jumlah testee kelompok bawah
BA = Jumlah testee kelompok atas yang menjawab pertanyaan dengan benar
BB = Jumlah testee kelompok bawah yang menjawab pertanyaan dengan benar
.
Misalkan kita ingin mencari daya beda dengan bank data soal seperti dibawah ini :
Kriteria indeks daya pembeda adalah sebagai berikut.
DP Kualifikasi
0,00 – 0,19
Jelek
0,20 – 0,39
Cukup
0,40 – 0,69
Baik
0,70 – 1,00
Baik sekali
Negatif Tidak baik, harus dibuang
Untuk mengetahui keberartian daya pembeda soal dilakukan dengan statistik uji-t, dengan persamaan berikut.

Keterangan :
t : Indeks Daya Pembeda (DP) antara kemampuan kelompok atas dengan kemampuan kelompok bawah,
Xa : skor rata-rata tiap item tes kelompok atas,
Xb : skor rata-rata tiap item tes kelompok bawah,
Sa : standar deviasi tiap item tes kelompok atas,
Sb : standar deviasi tiap item tes kelompok bawah,
Na: jumlah siswa kelompok atas, dan
Nb : jumlah siswa kelompok bawah.
Harga thitung yang dihasilkan dibandingkan dengan dengan harga ttabel dengan dk = (Na –1)+(Nb – 1) pada taraf kepercayaan 95%. Jika thitung > ttabel maka daya pembeda untuk soal tersebut adalah signifikan.
.
Persamaan lain yang dapat digunakan untuk menentukan daya pembeda yaitu : 

Keterangan:
DP : Indeks daya pembeda satu butir soal tertentu
SA : Jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah
SB : Jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah
IA : Jumlah skor maksimum salah satu kelompok pada butir soal yang diolah
Setelah indeks daya pembeda diketahui, maka harga tersebut diinterpretasikan pada kriteria daya pembeda sesuai dengan tabel berikut.
Interpretasi Daya Pembeda Instrumen Tes
Indeks Daya Pembeda Kriteria Daya Pembeda
Negatif – 9%
 
Sangat buruk, harus dibuang
10 % – 19 %
 
Buruk, sebaiknya dibuang
20 % – 29 %
 
Agak baik atau cukup
30 % – 49 %
 
Baik
50 % ke atas
 
Sangat Baik

Indeks Daya PembedaKriteria Daya Pembeda
Negatif – 9%

 

Sangat buruk, harus dibuang
10 % – 19 %

 

Buruk, sebaiknya dibuang
20 % – 29 %

 

Agak baik atau cukup
30 % – 49 %

 

Baik
50 % ke atas

 

Sangat Baik
d. Contoh Taraf Kesukaran Soal
: soal adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
I =B/N
Keterangan:
I =Indeks kesulitan untuk setiap butir soal
B =Banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal
N =Banyaknya yang memberikan jawaban pada soal yang di maksudkan.
Kriteria yang digunakan makin kecil indeks yang di peroleh makin sulit soal tersebut. Sebaliknya makin besar indeks yang diperoleh makin mudah soal tersebut.
Menurut keiteria yang sering di ikuti indeks kesukaran sering di klasifikasikan sebagai berikut :
· Soal dengan P 0 – 0,30 adalah soal kategori sukar.
· Soal dengan P 0,31 – 0,70 adalah soal kategori sedang.
· Soal dengan P 0,71 – 1,00 adakah soal kategori mudah.
Contoh:
Guru SKI memberikan 10 pertanyaan piihan berganda denga komposisi 3 soal mudah , 4 soal sedang , dan 3 soal sukar. Jika di lukiskan susunan soalnya adalah sebagai berikut :
No soal Abilitas yang Diukur Tingkat kesukaran soal
1. Pengetahuan (Mudah)
2. Aplikasi (Sedang)
3. Pemahaman (Mudah)
4. Analisis (Sedang)
5. Evaluasi (Sukar)
6. Sitesis (Sukar)
7. Pemahaman (Mudah)
8. Aplikasi (Sedang)
9. Analisis (Sedang)
10. Sitesis (Sukar)
.
Kemudian soal tersebut di berikan kepada 10 orang siswa dan tidak seorang pun yang tidak mengisi seluruh pertanyaan tersebut. Setelah di periksa hasilnya adalah sebagai berikut.
.
No soal
Banyakya siswa yang menjawab (N)
Banyaknya siswa yang menjawab (B)
Indeks
B/N
[Kategori soal]
1. (20) (18) (0.9) MUDAH
2. (20) (12) (0.6) SEDANG
3. (20) (10) (0.5) MUDAH
4. (20) (20) (1.0) SEDANG
5. (20) (6) (0.3) SUKAR
6. (20) (4) (0.2) SEDANG
7. (20) (16) (0.8) MUDAH
8. (20) (11) (0.55) SEDANG
9. (20) (17) (0.85) SEDANG
10.(20) (5) (0.25) SUKAR
Dari sebaran di atas ternyata ada tiga soal yang meleset, yakni soal nomor 3 yang semula di proyeksikan kedalam kategori mudah, setelah di coba ternyata termasuk kedalam kadegori sedang.demikian,juga soal nomor 4 yang semula di proyeksikan sededang ternyata termasuk kedalam kategori mudah . nomor 9 semula di kategorikan sedang ternyata termasuk kedalam kategori mudah. Sedangkan tujuh soal yang lainya sesuai dengan proyeksi semula atas dasar tersebut ketiga soal diatas harus diperbaiki kembali.
Soal no : 3 dinaikan dalam kategori sedang.
Soal no : 4 diturunkan dalam kategori mudah.
Soal no : 9 di turunkan kedalam kategori mudah.

Demikian Pengertian Uji Validitas, Reabilitas, dan Daya Beda beserta Contohnya, Sekian Terima Kasih. ❤️

Referensi :

http://merlitafutriana0.blogspot.com/p/validitas-dan-reliabilitas.html?m=1

Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 8, Nomor 2, Desember 2019

JICA. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI

Sutama, Anik Ghufron. (2011). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Standar Penilaian Dengan PAP dan PAN

A. Standar Penilaian dengan PAP      Penilaian acuan norma (PAN) merupakan pendekatan klasik, karena tampilan pencapaian hasil belajar siswa...